Sabtu, 13 Maret 2021

Berlomba-Lomba Bahagia

Sekarang zaman dimana sosial media itu berada diprioritas tinggi dikehidupan sosial. Segala macam aktivitas, tempat kita berada, apapun itu selalu untuk diposting disosial media. Yeah, somehow kadang itu sebuah hal yang toxic menurut aku. Sebenernya udah jelas semua hal yang diposting di sosmed itu pasti adalah hal yang baiknya aja, gak mungkin akan posting sedih atau buruknya kita. Lalu bagaimana toxic itu muncul? 
Semua itu karena mereka disosial media berlomba untuk terlihat bahagia dan kita sebagai audience merasa bahwa kehidupan yang kita miliki tidak sejalan atau semanis yang mereka tampilkan. Secara terus menerus kita mengkonsumsi kehidupan menarik dan bahagia yang mereka tampilkan dengan perbandingan kehidupan kita sendiri yang mungkin berat, tidak semulus mereka, tidak semenarik atau sebahagia mereka. Endingnya kita meresa useless terhadap diri sendiri, merasa tidak berharga dan tidak bahagia dengan hidup yang dijalani. 
Bagaimana mengcut toxic tersebut? Hanya diri kita sendiri yang bisa menghandle pikiran dan hati kita. Bahwa semua itu hanyalah semu, tidak ada didunia ini yang berkehidupan sempurna. Pasti semua orang membawa masalah tersendiri dikehidupannya. Sejalannya perkembangan sosial dan kehidupan berteknologi yang semakin canggih maka kita harus menguatkan mental kita untuk semakin kuat. Karena penyakit tidak selalu muncul berbentuk fisik yang nyata tapi hati yang mengelola berbagai perasaan. Dimana hati mudah sedih, kecewa, patah, hancur, bahagia dan senang. Kita sendirilah yang harus mengelolanya, bukan orang lain. Semoga dengan semakin berkembangnya sosial media semoga juga turut tingginya rasa kuat kita terhadap hati dan diri sendiri.

Menempatkan Rasa

Dulu saat masih kecil hanya terfikirkan rasa senang yang didapat ketika dewasa. Saat dewasa kita bisa melakukan apapun, lebih bebas dan bisa mendapatkan kebahagiaan. Nyatanya tidak, semakin dewasa semakin banyak masalah yang akan kita dapat. Semakin merasa bahwa ini sulit dan tidak tahu bagaimana ujungnya. Akhirnya aku tersadar semakin dewasa bukan bahagia yang kita cari, tapi kenyamanan dalam berproses diri yang akan mendatangkan kebahagiaan. 
Dititik kepala 2 sudah banyak proses, pengalaman dan gambaran hidup yang kita lalui. Pahit, manis, sedih, susah dan senang semua akan terus beriringan silih berganti. Tidak ada yang selamanya akan sedih dan susah, pun tidak ada yang selamanya hanya akan bahagia. Semua itu tergantung timing yang datang pada kita, oleh karena itu setiap rasa tersebut harus diterima, ditelan, dan diambil makna pelajarannya. 
Dan pada titik ini kamu juga baru tersadar bahwa seseorang yang selalu berdiri untuk dirimu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain termasuk keluarga, teman, pacar ataupun sahabat. Berbaik hatilah untuk dirimu sendiri, istirahat jika lelah, bangkit dan istirahat lagi. Kamu selalu kuat lebih dari yang kamu kira. Coba tengok kebelakang sebentar, semua sudah kamu lalui dengan baik bukan? Bahkan kamu tidak pernah mengira akan sebaik ini. Jalani dan teruslah melangkah tanpa henti. Kamu ditakdirkan untuk dirimu sendiri, tidak apa jika tidak bersama teman, tidak punya teman, kamu pasti bisa melaluinya. 

Belajar Rasa Ikhlas

Tentang rasa ikhlas setiap orang pasti punya caranya masing-masing dalam mengelola rasa itu. Dan sampai pada moment ini tiba, dimana apa yan...